badge
IPB Badge
kategori

Kekerabatan sebagai Alternatif Baru Meningkatkan Partisipasi

dalam Pembangunan

(Studi kasus: Warga RW 07 Desa Ciasihan, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor)

Oleh:

Kelompok 3[1]

PENDAHULUAN

Pembangunan seringkali didefinisikan sebagai upaya meningkatkan perekonomian secara besar-besaran. Perbaikan dan kelancaran infrastruktur, sarana dan prasarana umum, transportasi, dan berbagai pelayanan publik lainnya, dianggap sebagai hasil pembangunan. Namun kita sering tidak mencermati aktor yang berperan dalam proses pembangunan semacam itu. Kesalahan masyarakat dalam memaknai pembangunan membentuk karakter sumber daya manusia (SDM) yang superpasif. Akibatnya, kita hanya menunggu bantuan dari atas yang menyebabkan ketergantungan terhadap program pembangunan pemerintahan.

Paradigma tentang pembangunan, dirasa keliru dan justru saat ini telah berkembang  di masyarakat. Pembangunan seharusnya berkelanjutan dan mengandung unsur pemberdayaan. Membangun adalah memberdayakan manusia demi kemajuan di masa sekarang dan masa mendatang. Pemberdayaan tentunya akan berkaitan dengan unsur pastisipasi. Wujud partisipasi ini akan terlihat lebih nyata di kehidupan pedesaan daripada di perkotaan, contohnya pada kegiatan gotong royong atau kerja bakti. Namun dalam konteks pembangunan, refleksi partisipasi masyarakat desa yaitu dalam hal pengambilan keputusan. Forum diskusi dapat mengarahkan masyarakat dalam menyelesaikan berbagai masalah yang dihadapi dengan menjalankan solusi bersama.

Desa Ciasihan Kecamatan Pamijahan mayoritas penduduknya ialah keluarga tani. Obyek penelitian kali ini menggunakan warga RW 07 Desa Ciasihan sebagai responden. Warga RW 07 memiliki unsur genealogis yang kental dan hal ini melekat pada sistem tanah waris yang mengikuti hukum bijaksana dimana laki-laki dan perempuan mempunyai hak yang sama, selain itu mereka semua ternyata adalah saudara kandung. Bagi hasil tani dengan ketentuan 9:1 dimana petani berhak atas 90% hasil produksi mereka dan 10%nya diserahkan kepada pemilik penggilingan padi sebagai pembayaran, serta tempat tinggal mereka yang berkelompok dalam satu keluarga. Hal yang sangat menarik untuk  dikaji lebih mendalam yakni mengenai pengaruh geneologis terhadap kekerabatan warga RW 07. Kekerabatan inilah yang menyebabkan terbentuknya kelompok tani dengan tingkat partisipatif yang tinggi. Mereka menamakan kelopok Tani mereka Paguyuban Masyarakat Mandiri (PMM). Paguyuban Masyarakat Mandiri (PMM) ini merupakam upaya penelaahan masalah pertanian dan pencarian solusi dari masalah bersama melalui diskusi.

Penelitian sosial yang menggunakan Kelompok Tani sebagai sampel dapat melihat bagaimana kekerabatan warga RW 07 Desa Ciasihan dalam kehidupan sehari-hari dan bagaimana pengaruh kekerabatan kelompok tani yang bergabung dalam PMM terhadap pembangunan berkelanjutan. Kelompok tani sebagai bentuk saluran komunikasi, dapat menjadi acuan analisis seberapa erat keterlibatan pemerintah, swasta, dan masyarakat dalam proses pembangunan. Selain itu, dapat dianalisis bahwa kekerabatan menjadi faktor pendukung pembangunan berkelanjutan yang cenderung terjadi di RW 07 Desa Ciasihan.

Melalui penelitian terhadap kelompok tani ini seharusnya, dapat membuat masyarakat mengerti pentingnya paguyuban sebagai wadah realisasi kerja sama dan partisipasi dalam mengambil keputusan. Hal ini baik untuk dipertahankan bahkan ditiru oleh kelompok tani lainnya. Pemerintah pun sebagai aktor penentu kebijakan akan memandang pentingnya ilmu dan informasi yang didistribusikan melalui paguyuban kelompok tani, dalam hal ini pengetahuan tentang pertanian organik. Setidaknya pemerintah dapat mengurangi produksi pupuk kimia yang tidak ramah lingkungan dan tidak ekonomis. Sementara itu, di lain pihak kaum akademisi juga dapat berkontribusi dalam pembangunan di Desa Ciasihan dengan menyebarkan inovasi pertanian kepada petani terkait pertanian organik.

Selintas tentang Desa Ciasihan

Desa Ciasihan merupakan bagian dari Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Berdasarkan data yang didapat dari arsip desa (2010), Desa Ciasihan berdiri diatas lahan seluas 459.042 ha/m,2 terbagi atas 55 ha/m2 luas permukiman, sementara luas persawahan mencapai 342 ha/m2, sisanya adalah perkebunan, pemakaman, dan sebagainya. Desa Ciasihan terdiri atas 9 RW dan 51 RT.  RW 07 yang menjadi obyek geografis penelitian kali ini memiliki penduduk sebanyak 2502 jiwa. Sebanyak 1178 jiwa penduduk RW 07 Desa Ciasihan tersebut berprofesi sebagai petani, baik petani pemilik tanah, penggarap, atau hanya sebagai buruh tani. Jumlah petani di wilayah ini mencapai angka 47,08% dari total penduduk. Setelah petani, profesi dominan penduduk adalah pedagang yakni sebanyak 782 jiwa atau 31,3% dari total penduduk. Mereka berdagang di kota untuk menambah penghasilan pada saat musim senggang atau pasca panen. Mereka pergi ke kota untuk berdagang dan pulang ke desanya dalam kurun waktu dua minggu sekali atau sebulan sekali. Saat berdagang di kota, umumnya para petani ini tetap berkumpul dalam satu rumah sewa. Hal ini menunjukkan kekerabatan diantara mereka pun tetap terjalin.

Pembangunan dan Kekerabatan

Harus diakui dan memang terlihat begitu jelas terlihat bahwa hubungan geneologis yang begitu kental benar-benar menciptakan suatu kekerabatan yang erat. Sebelum mengetahui bagaimana kekerabatan warga RW 07 perlu identifikasikan terlebih dahulu konsepsi kekerabatan atau kelompok kekerabatan menurut Murdock yang dicirikan oleh hal-hal berikut:

  1. Adanya rasa kepribadian kelompok yang disadari oleh warga-warganya.
  2. Terjadinya aktivitas-aktivitas berkumpul yang dilakukan secara berulang-ulang.
  3. Adanya sistim kaedah-kaedah yang mencakup hak-hak dan kewajiban-kewajiban yang mengatur interaksi sosial antara warga-warga kelompok tersebut.
  4. Terdapatnya pimpinan yang mengatur dan mengawasi kegiatan-kegiatan kelompok.
  5. Kemungkinan adanya sistem dari hak-hak dan kewajiban-kewajiban dari warga-warga masyarakat tertentu terhadap sejumlah harta produktif, harta konsumtif dan harta pusaka.

Realitanya, pada penelitian yang telah dilakukan di RW 07 kelima ciri diatas terlihat begitu jelas. Tingginya rasa kepribadian kelompok dan terjadinya aktivitas berkumpul yang berulang-ulang tercermin dalam budaya gotong royong yang mereka miliki. Hampir pada semua wawancara yang dilakukan, diceritakan bagaimana tradisi gotong-royong benar-benar diterapkan oleh warga RW 07. Setiap hari Jum’at semua warga laki-laki menyempatkan diri bersama-sama membersihkan desa mereka, khususnya RW 07. Sementara itu, para wanitapun ikut serta dengan menyediakan makanan dan minuman bagi para kerabat mereka yang sedang melaksanakan kerja bakti tersebut. Budaya gotong-royong ini juga terlihat pada pembangunan rumah warga yang juga dilakukan secara bersama-sama, pembangunan wc umum yang diperuntukkan bagi seluruh warga RW 07 yang tidak memiliki wc dirumah masing-masing. Bahkan budaya ini juga terlihat pada waktu mereka panen, para warga bahu membahu membantu memanen padi walaupun tidak diberi imbalan apapun. Semua itu mereka lakukan karena terjalinnya suatu kekerabatan yang begitu erat antara mereka.

Salah satu tokoh yang paling berperan dalam mengordinasikan warga dan menjaga kekerabatan ini agar tetap erat bagi warga RW 07  adalah bapak ujang. Beliau yang selalu mengingatkan warga untuk melaksanakan kerja bakti. Informasi disampaikan melalui speaker yang terdapat di mushola sederhana di depan rumahnya. Hanya dengan dua atau tiga kali panggilan ternyata warga sudah berkumpul.

Kelima ciri tersebut cenderung melekat dalam kehidupan warga RW 07 Desa Ciasihan. Kekerabatan yang sangat erat di kelima RT di RW 07 membuat pembangunan yang didasari oleh rasa sukarela dan membawa semangat kesetiakawanan sosial semakin mudah terwujud. Hal ini terlihat setiap istri petani berinisiatif memberikan bantuan tenaga dan sembako ketika dilaksanakan pembangunan fisik di desa. Mereka menyadari bahwa hal itu adalah kebutuhan bersama untuk kemajuan desa, tanpa mempertimbangkan keuntungan pribadi yang mereka dapatkan saat itu.Bentuk kekerabatan mereka semakin terlihat ketika didapat fakta bahwa sebagian besar  pembangunan rumah RW 07 dilakukan secara bersama-sama. Semangat kesetiakawanan inilah yang menjadi kekuatan pembangunan yang sesungguhnya.

Pembangunan di Desa Ciasihan tidak cenderung pada pertumbuhan ekonomi, ekspansi kapital, utang luar negeri, dan teknologi padat modal. Pembangunan yang diterapkan lebih mengarah pada popular empowerment, yakni transfer kekuatan sehingga semua pengambangan sumber daya manusia merata tanpa pembagian kelas, baik karena faktor pendidikan, ekonomi, bahkan kekuasaan. Mekanisme distribusi dalam membangunnya cenderung konsensus dan bersih dari transfer kekuatan trickle down effect[2]. Ukuran keberhasilan dalam pembangunan pun berupa peningkatan kesejahteraan petani dan ekosistemnya, bukan sekadar Pendapatan Domestik Bruto (PDB) dan pendapatan per kapita. Pembangunan yang ada di RW 07 Desa Ciasihan dapat  merefleksikan beberapa prinsip pembangunan, yaitu:

  • Ketahanan ekonomi (capacity to endure), yakni PMM dapat mempertahankan kesedian pangan pokok dan kestabilan ekonomi bagi seluruh warga RW 07
  • Kelenturan (resiliency) dalam menghadapi perubahan, berupa kestabilan sumber daya manusia (warga tani) dalam mengatasi masalah pertanian yang mereka hadapi bersama
  • Kemandirian (self reliance) dan self-sufficiency (keswasembadaan), yakni sifat ketidaktergantungan terhadap bantuan dari pemerintah. Warga biasanya bekerja secara kekeluargaan dan saling membantu, baik segi modal, pengetahuan, maupun tenaga
  • Kontinuitas (continuity principle), warga melaksanakan tujuan bersama berdasarkan pengetahuan dan keputusan bersama dalam menerapkan pertanian organik
  • Kearifan terhadap nilai dan pengetahuan lokal (indigenous knowledge), dimana seluruh warga tetap mempertahankan pertanian lokal agar bersesuaian dengan iklim dan tanah di sana.

Pembanguanan yang terjdi di RW 07 ini jika dikaitkan dengan teori-teori pembangunan yang ada jelas dapat diakategorikan kedalam teori pembanguan kontemporer dengan model pendekatan community empowerment. Dalam pendekatan community empowerment masyarakat dianggap sebagai subyek pembangunan bukan sebagai obyek. Pada konsep ini pembangunan haruslah melibatkan sejumlah orang atau individu, dimana mereka berpartisipasi secara sukarela dan membawa semangat kesetiakawanan sosial dimana berlangsung proses-proses sosial yang dilandasi oleh keinginan untuk saling berbagi, kesederajatan, demokratis, dan menghargai nilai-nilai budaya lokal.

Oleh karena itu,  pembangunan menuntut adanya dua aspek penting yang berkaitan, yakni konsistensi dan konsekuensi. Proses dan hasil pembangunan sangat dipengaruhi oleh para aktor yang berperan dalam pembangunan itu. Apabila kita menyoroti pembangunan kontemporer yang biasanya dikaitkan dengan esensi kelestarian lingkungan, maka pembangunan harus mengandung prinsip keberlanjutan (sustainnability). Pembangunan yang berkelanjutan adalah proses membangun yang hasilnya dapat memenuhi kebutuhan masyarakat pada saat ini, namun tanpa membuat generasi mendatang (anak-cucu) kekurangan atau menghadapi kesulitan dalam memenuhi kebutuhan mereka.

Dalam pembangunan Desa Ciasihan RW 07, power (kekuatan) menjadi milik bersama. Artinya, kesenjangan sosial tidak akan dipengaruhi oleh kekuasaan. Oleh karena itu, masyarakat akan memperoleh kekuasaan dalam mengambil keputusan dan menetukan tindakan yang akan dilakukan melalui peningkatan kemampuan dan rasa percaya diri untuk menggunakan kekuasaan yang dimiliki. Selain itu, pola ini akan menjadikan individu, kelompok, ataupun masyarakat (komunitas) berusaha mengontrol kehidupan mereka sendiri dan mengusahakan untuk membentuk masa depan sesuai dengan keinginan mereka. PMM di RW 07 Ciasihan adalah wadah bagi para petani untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan pertanian, dimulai dari pemecahan masalah hingga introduksi sistem pertanian yang lebih produktif. Namun dalam pelaksaannya petani tetap bebas mengambil keputusan.

Penjelasan di atas sangat terkait dengan aspek-aspek penting yang harus diperhatikan dalam konsep pembangunan. RW 07 Desa Ciasihan menggunakan pendekatan Popular Empowerment dalam membangun desa. Hal ini memperjelas bahwa pembangunan akan memberikan keuntungan yang mendasar bagi subyek pembangunan (masyarakat), yakni manfaat berupa ilmu yang bersifat kontinyu dan kekal. Proses pembangunan sangat mengandung unsur pemberdayaan dan perjuangan partisipasi masyarakat. Ukuran keberhasilan pembangunan tipe ini berdasarkan tingkat kesejahteraan masyarakat dan ekologi, serta tidak dipengaruhi oleh dimensi politik pemerintahan yang biasanya menyebabkan makna pembangunan menjadi bias. Oleh karena itu, jenis gerak perubahan tergolong evolusioner yang cenderung terencana dan bertahap. Perspektif matrealistik merepresentasikan bentuk perubahan warga di RW 07 Desa Ciasihan ini, di mana masyarakat bersama-sama melakukan pergerakan untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan bersama.

Peran Kekerabatan Kelompok Tani bagi Pembangunan Desa

Abbas (Anantanyu 2009) mengemukakan bahwa peranan kelompok tani adalah 1) sebagai wahana belajar bagi petani dan anggotanya agar terjadi interaksi guna meningkatkan, pengetahuan, sikap, dan keterampilan dalam berusaha tani yang baik serta berperilaku lebih mandiri untuk mencapai kehidupan yang lebih sejahtera. 2) Sebagai unit produksi, kelompok tani merupakan kesatuan unit usahatani utuk mewujudkan kerjasama dalam mencapai skala ekonomi yang lebih menguntungkan, dan 3) sebagai wahana kerjasama antaranggota dan antarkelompok tani dengan pihak lain untuk memperkuat kerjasama dalam menghadapi berbagai ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan.

Sementara SPB (Sinaga 2002) menyebutkan ada beberapa bidang dalam kegiatan usahatani yakni 1) pengadaan benih, 2) penanaman serempak, 3) pengadaan pupuk, 3) pengadaan pestisida, 4) pengamanan, 5) pemberantasan hama/penyakit, 6) pengairan, 7) pengadaan sprayer, 7) penyisihan hasil lumbung, 8) pemasaran hasil kelompok tani. Kegiatan yang dijalankan di PMM RW 07 Desa Ciasihan berupa transfer pengetahuan tentang pertanian yang bertujuan untuk penyeragaman pengetahuan dan pengoptimalan sumber daya desa. Peran Paguyuban tersebut dapat diintegrasikan dengan pernyataan Abbas (Anananyu 2009), dimana PMM dimanfaatkan warga untuk sama-sama belajar, sebagai unit produksi, dan wadah bekerja sama dalam meningkatkan kesejahteraan bersama.

Kekerabatan yang terjalin amat erat diantara warga RW 07, menjadikan tingkat partisipasi warga terhadap pembangunan di desa tersebut amatlah tinggi, terutama di RW 07. Program-program pembangunan desa yang pada awalnya hanya menyentuh RW 01 hingga 05 akhirnya membangkitkan semangat warga RW 07 untuk bersama-sama membangun wilayah mereka sendiri. Beberapa fasilitas umum seperti jalan dan juga toilet umum merupakan hasil dari swadaya warga RW 07. Tingginya partisipasi ini membuat pemerintah desa setempat mulai memberikan perhatian lebih kepada warga RW 07. Perhatian itu diwujudkan dalam bentuk pengadaan program-program pengembangan masyarakat yang bertujuan membangun desa.  PNPM Mandiri mulai masuk ke dalam RW 07 setelah pembangunan di RW 01 hingga RW 05 terlebih dahulu. Sebagai program pembangunan mayarakat yang berbasis pemberdayaan dan partipasi masyarakat, program PNPM mandiri memiliki syarat yakni, pembangunan akan diberikan asalkan ada swadaya dari masyarakatnya. Oleh karena itu, PNPM mandiri menjadi wadah bagi masyarakat untuk menunjukan semangat gotong royong yang mereka miliki.

Seolah berkelanjutan dengan PNPM, program Bina Desa juga diperkenalkan di warga RW 07. Berbeda dengan PNPM Mandiri, program Bina Desa ini berasal dari pihak swasta, bukan pemerintah. Pada penerpannya program Bina desa ini membawa dampak yang positif bagi warga RW 07 yakni menumbuhkan semangat warga untuk membangun desanya sendiri dengan membentuk Paguyuban Masyarakat Mandiri (PMM). Secara struktural, Paguyuban ini hanya diketuai oleh seorang Tokoh Mayarakat, yakni Bp. Ujang Shiron. Kemudian, Bp Ujang hanya memiliki sekretaris PMM yakni pemuda desa yang berprofesi sebagai petani (Kang Uning).

Paguyuban Masyarakat Mandiri telah merumuskan tujuan dan agenda yang akan mereka laksanakan. Agenda itupun disusun berdasarkan hasil musyawarah saat diadakannya kumpul kelompok untuk pertama kalinya pada tanggal 30 November 2010. Pada agenda tersebut warga menetapkan waktu rutin untuk latihan pertanian alami, latihan administrasi, latihan organisasi, rapat rutin, serta diadakan pula iuran anggota untuk saprotan dan jaminan pendidikan anggota keluarga.

Selain itu, terdapat pula aturan-aturan hasil kesepakatan bersama anggota PMM, yakni (sumber: arsip sekretaris PMM): 1) Anggota yang tidak hadir sebanyak tiga kali berturut-turut tanpa alasan yang jelas akan diberhentikan, 2) konfirmasi kehadiran peserta akan dimusyawarahkan, 3) kepengurusan akan berlangsung selama tiga tahun per periode, 4) kepengurusan yang sama maksimal aktif dua periode, 5) kegiatan dilakanakan secara LUBER JURDIL, 6) apabila ketua mengundurkan diri akan digantikan dengan wakil ketua sampai periode selesai, dan berdasarkan musyawarah.

Pelaksanaan agenda PMM ini bagi anggota mempunyai tujuan bersama yang telah disepakati melalui musyawarah. Mereka sangat mengharapkan adanya output dari kerja sama, misalnya: kemandirian dana, pengembangan pertanian alami, wadah konsultasi, serta memiliki kepandaian berorganisasi. Pembangunan yang berlandaskan pada wujud partisipasi dan pemberdayaan masyarakat seperti warga RW 07 Desa Ciasihan inilah yang dapat dijadikan contoh mengenai arti dari suatu pembangunan masyarakat  atau lebih dikenal dengan popular development.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa hubungan genelogis yang terjalin diantara warga RW 07 mampu menciptakan suatu pola kekerabatan yang begitu erat. Kekerabatan tersebut menjadikan tingkat partisipasi warga terhadap pembangunan di desa tersebut sangat tinggi. Program pembangunan seperti PNPM Mandiri dan Paguyuban Masyarakat Mandiri (PMM) menunjukkan konsep pembangunan yang berkembang di Masyarakat Desa Ciasihan RW 07 ini berbasis partisipasi dan pemberdayaan masyarakat..

Pengamatan di Desa Ciasihan RW 07 ini terbatas pada pengaruh kekerabatan terhadap pembangunan. Oleh karena itu, perlu diadakan program atau penelitian lebih lanjut tentang tata kelola kelembagaan yang diharapkan dapat merangsang fungsi kekerabatan warga RW 07 Desa Ciasihan tersebut dalam proses pembangunan. Tata kelola kelembagaan dirasakan perlu dikembangkan pada PMM RW 07 Desa Ciasihan karena Paguyuban Masyarakat Mandiri belum terstruktur dan sangat independent. Maka, perlu adanya perhatian dari pemangku kepentingan atau stakeholder untuk memajukan Paguyuban Masyarakat Mandiri tersebut.

REFERENSI

Anantanyu,Sapja.2009.Partisipasi Masyarakat Meningkatkan Kapsitas Kelembagaan Kelompok tani. Disertasi Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor (IPB). Tidak dipublikasikan.

Nasdian, Fredian Tonny, 2010. Pengantar Pengembangan Masyarakat. Diktat Kuliah Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Institut Pertanian Bogor.

Nasdian, Fredian Tonny, 2003. Teori-Teori Pembangunan tahun 1990. Diktat Kuliah Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat. Institut Pertanian Bogor.

Sinaga, Anna. 2002. Kerjasama anggota kelompok tani pada sistem usahatani terpadu di lahan sawah irigasi (KASUS KECAMATAN Banyuresmi, Garut dan Kecamatan penyingkiran). Tesis program Magister sains sekolah pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Tidak dipublikasikan.


[1] Andini Sekar P (I34080009), Rika Yulia (I34080038), Husnul Khotimah (I34080056), Syifa Utari (I34080088), Agus Sandra (I34080103), Nadia Indah (I34080131), Sondang F Pakpahan (I34090018), Mohamad Iyos Rosyid (I34090044), Intan Endawaty K.P (I34090047), Rahayu Arizona (I34090058), Faiza Libby S. Lubis (I34090061), dan Karina Heza P (I34090117).

[2] Adalah konsep pembangunan pembangunan dimana pembangunan bertumpu pada pusat dalam Nasdian, Fredian Tony.2010. Pengantar Pengembangan Masyarakat.diktat kuliah Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat.:Institut Pertanian Bogor.

Pantai Telanca dan Pantai Bagedur merupakan wilayah yang berada di Kecamatan Malingping, Kabupaten Lebak, Propinsi Banten. Potensi yang sangat menguntungkan apabila masyarakat sekitar bisa mengoptimalkan wilayah tersebut. Namun, pertayaan yang mendasar yaitu mengapa mereka tidak mampu mengoptimalkan wilayah pantai tersebut, setidaknya menjadi nelayan?dan faktor apakah yang mereka miliki sehingga tidak ada inisiatif untuk mengembangkan wilayahnya.

Pemerintah daerah LEBAK yakni Bapak H. Mulyadi Jaya Baya, SE, saat diwawancarai pada tanggal 15 Februari 2011, menuturkan bahwa Pemerintah lebih menekankan pada aspek pendidikan dan kesehatan, sedangkan untuk bidang pariwisata adalah prioritas terakhir. Mengingat masyarakat LEBAK yang relatif rendah dalam bidang pendidikan. Selain tempat Kesehatan di Kabupaten LEBAK tergolong sangat kecil dan kurang begitu memadai. Disinilah peran masyarakat banten dalam berkontribusi untuk membangun LEBAK yang menjadi lebih baik. Idealnya pemerintahlah yang bertanggung jawab dalam kesejahteraan, namun, pihak stakeholders sangat di butuhkan di dalamnya.

Kabupaten Lebak, adalah sebuah kabupaten di Provinsi Banten, Indonesia. Ibukotanya adalah Rangkasbitung. Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Serang dan Kabupaten Tangerang di utara, Provinsi Jawa Barat di timur, Samudra Hindia di selatan, serta Kabupaten Pandeglang di barat.

Kabupaten Lebak terdiri atas 28 kecamatan, yang dibagi lagi atas 340 desa dan 5 kelurahan. Pusat pemerintahan di Kecamatan Rangkasbitung, yang berada di bagian utara wilayah kabupaten. Kota ini dilintasi jalur kereta api Jakarta-Merak.

Secara geografis wilayah Kabupaten Lebak berada pada 105 25′ – 106 30 BT dan 6 18′ – 7 00′ LS. Bagian utara kabupaten ini berupa dataran rendah, sedang di bagian selatan merupakan pegunungan, dengan puncaknya Gunung Halimun di ujung tenggara, yakni di perbatasan dengan Kabupaten Bogor dan Kabupaten Sukabumi. Sungai Ciujung mengalir ke arah utara, merupakan sungai terpanjang di Banten. (Sumber Wikipedia, 24 Feb 2010).

Secara garis besar, kabupaten Lebak  adalah kabupaten terluas di Banten, dan sangat optimal, jika kita mampu memanage serta mengelola dengan baik.

Perlu kita kaji lebih mendalam jika kita

badge
IPB Badge
Calender’s MIR_yosa
May 2015
S M T W T F S
« Feb    
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31